Sosok sepuh yang dibilang sudah tidak muda lagi dialah Mbah MArijan yang kediamannya dilereng merapi tapi bisa bikin sensasi.
Dia bahkan pernah menentang rajanya sendiri berkaitan dengan jabatannya sebagai juru kunci gunung Merapi
Tapi bukan itu poin dari bahasan kita kali ini. coba lohat pengabdiannya, coba lihat kepatuhannya, coba lihat kesetiannya sungguh merupakan zat yang langka di era abad ini.
Dia bekerja bukan untuk digaji karena nilai gajinya dengan pengabdiannya adalah bagai langit dan bumi, namun dia mau karena itu adalah amanah Beliau rasa menjadi kawula yang dipercaya oleh gustinya adalah hal yang luar biasa, karena non materi sifatnya dan tanpa pamrih.
Bila Keteladanan itu diangkat ke permukaan adalah suatu hal yang luar biasa seperti slogan Ki Hajar Dewantara
Ing Ngarso sung Tuladha
Ing Madya Mbangun karsa
tut wury Handayani
Sayang coy ini era komersialisasi
ada duit lo temen gue
gak ade duit ke laut aje
Tanda tanda kepudaran nilai nilai keemasan bangsa ini, yang mempunyai sebuah negeri
GEMAH RIPAH LOH JINAWI
HANCUR OLEH HILANGNYA BUDI PEKERTI
ANDAI SEMANGAT MBAH MARIJAN DIMILIKI PEMIMPIN PEMIMPIN NEGERI INI
Seharusnya indonesia tak perlu menangis
Karena bencana sudah terlanjur akrab dengan kita
entah itu tsunami gunung meletus
tanah longsor
atau yang paling sering adalah banjir
MENGAPA KITA TAK BOLEH MENANGIS
karena hendaknya kita mengaca pada negara negara yang pernah menjajah negara kita bagaimana mereka menanggulangi bencana sehingga kedatangannya tidak terlalu meberi surprise
contoh Jepang, adalah notabene negara kecil, bahkan luasnya tidak mecapai separo dari kepualaun indonesia namun mereka survive dalam menghadapi bencana karena pa ? mereka sangat prepare
Mereka tahu bahwa negaranya adalah negara yang berdiri diatas pucuk pucuk vulkanik mau tidak mau mereka harus mentasipasi datangnya muntahan lahar dan gempa vulkanik yang diakibatkan oleh gunung yang meletus.
Mereka menanggapinya dengan serius dan mereka benar benar mempersiapkan rakyatnya dengan berbagai macam pengetahuan tentang “musuh” yang akan mereka hadapi. Pengalaman demi pengalaman tidak mereka lakukan dengan hanya menangis bombay dan urunan uang sumbangan namun mereka belajar terus belajar bagaimanakah caranya meminimalisasi akibat atau efek yang ditimbulkan oleh sutu bencana alam, karena manusia tidak bisa memprediksi batas kekuatan alam maka yang mereka lakukan adalah antisipasi dan preventif.
Lain lubuk lain ikannya
Bencana yang baru baru ini menimpa indonesia dengan meletusnya gunung Merapi, adalah suatu kesalahan yg fatal apabila timbul korban.
Karena beberapa tahun sebelumnya gunung itu sudah pernah batuk
dan setelah sekian lama ia batuk lagi, pengamanan masyarakat tetap sama saja, keterlambatan inilah itulah kurang koordianasilah, yah itulah indoesia. Selalu ramai bicara dibelakang peristiwa.
Mungkin itulah kelebuhan negara jepang hingga ia bisa menjajah indonesia. Indonesia masih mbrangkan Jepang sudah lari ketepang tepang,
Pacar bisa saja putus bahkan keluargapun bisa saling bermusuhan Tetapi tidak dengan sahabat … Sahabat tulus tanpa tendensi Murni tanpa saling ingin menguasai
He he he
itu awalnya iseng iseng
emang sich dari iseng trus kenalan dari kenalan trus emailan he he he
tapi yaah sebatas gitu doank
gak lebih gak kurang
ternyata berguna juga bagi orang kuper kayak saya
dari pada kongkow kongkow gak jelas Face book juga membantu orang pendiam seperti saya untuk bersosialisasi
umurnya rata rata jauh dibawah saya semua he he he
bisa dibilang selisih sepuluh tahunan lah
tapi nyambung og klo diajak ngobrol hehehe
dari situlah timbul judul diatas
namanya iseng yah dasarnya gak serius
dibilang gak serius kok nggak betah juga lama gak ketemu he he he
dulu sich ada “temen” saya ndak tau skarang ngilang kemana temen dunia maya gitu maksudnya.
Yah kalo ngilang masak maksa
trus katanya repot lah kalo repot masak mau digangguin
padahal aq juga kangen ama candanya (bukan kangen tanda petik lho)
disini juga orangnya di dagdigdug.
Ah sudahlah biar waktu yang bicara
He he he
ada juga yang cemburu lho kalo aku trlalu dempet ama si ini terlalu dekat ama si itu. Gak tau knapa?
he he he
Mungkin inilah korban jaman, hingga temenan harus menghabiskan berapa ribu kilobyte hik hik hik
Tapi lumayan bisa mengurangi stress loh jadi mengawetkan umur.
he he he semoga semua yang kecentil n kesindir pada ngerasa.
Kalo aq tulus nggak ada maksud apa apa
swear swear swear
“Smoga persahabatan tetep langgeng abadi , amin”
berbakti pada orang tua sorga jaminannya
Hawa udara di Changchun , Tiongkok, sangatlah dingin. Li Yuanyuan memanggul sang ibu yang lumpuh kedua kakinya sambil menggendong putrinya yang berusia dua tahun buru-buru ke rumah sakit karena sang ibu terkena serangan jantung lagi. Orang-orang yang berlalu lalang di jalan memandang mereka bertiga dengan mata terbelalak, semua takjub melihat seorang wanita yang kelihatannya kurus lemah justru memiliki tenaga untuk memanggul satu orang sambil menggendong satu lagi…….
Menurut laporan “City Evening Post”, di pagi buta, 13 Pebruari 2008, Li Yuanyuan telah memakaikan baju bagi anak dan sang ibu yang baru sembuh dari sakitnya. Jam 10 pagi, Yuanyuan berjongkok di depan sang ibu, meletakkan kedua kaki ibu di pinggangnya lalu memanggul sang ibu, kemudian menggendong putrinya yang berdiri di atas tempat tidur.
Kedua tangan Yuanyuan dipakai untuk menyangga sang ibu, sedangkan sang ibu membantu merangkul cucunya mengitari leher Yuanyuan. Dengan cara inilah tiga orang tersebut saling berangkulan dengan susah payah keluar dari rumah sakit. Sang ibu telah lumpuh selama 21 tahun, selama 21 tahun itu pulalah Yuanyuan terbiasa memanggul sang ibu keluar masuk rumah sakit.
Ketika Yuanyuan berusia 7 tahun terjadilah sebuah kecelakaan lalu lintas yang benar-benar telah merubah kehidupannya. Karena kecelakaan ini ibunda mengalami kelumpuhan pada kedua kaki yang
diperparah dengan menghilangnya sang ayah. Sejak saat itu, Yuanyuan menjadi tulang punggung rumah tangga. Karena tidak ada penghasilan Yuanyuan menghidupi keluarga dengan menjadi pemulung, uang hasil kerja kerasnya habis terpakai untuk mengurus sang ibu.
Rasa bakti Yuanyuan kepada orang tua sangat menyentuh hati para tetangga, banyak tetangga yang dengan sukarela memberi bantuan kepada sang ibu dan putrinya ini. Karena sepanjang tahun hanya mampu berebahan, otot kaki sang ibu sering kejang, sakitnya tak tertahankan.
Ada seorang tetangga yang berprofesi sebagai seorang dokter tradisional tua, setiap hari membantunya memberikan terapi akupunktur terhadap ibu Yuan-yuan, bahkan mengajarnya menggunakan teknik akupunktur sederhana. Sejak berusia 11 tahun sampai sekarang, Yuanyuan sudah dapat menggunakan teknik akupunktur untuk meringankan rasa sakit ibunya.
Tiga tahun yang lalu, Yuan-yuan menikah, setahun kemudian, Yuanyuan melahirkan seorang putri. Namun di mana pun dan kapan pun, Yuanyuan tidak pernah meninggalkan sang ibu, dia dan suaminya bersama-sama memikul tanggung jawab mengurus sang ibu.
Meskipun rumah tangganya tidak terbilang kaya, mereka sangatlah puas. Sang ibu berkata, terkenang masa 21 tahun ini meskipun penuh penderitaan, namun dia sangat puas, dia merasa diri-nya sama dengan orang tua lain yang juga telah menikmati kehangatan keluarga.
Bagi Yuanyuan, selama 21 tahun ini, dia merasa dirinya sangat bahagia, karena dia adalah seorang anak yang masih memiliki seorang ibu.
“Saya rela menjadi tongkat ibu sepanjang hidupku.……” (Dajiyuan/prm)
Semoga kita bisa menjadi anak yang berbakti kepada orang tua…amin
vivanews
jalan pintas
Bila sedang jatuh pailit, kemudian dililit banyak utang, bisa membuat seseorang gelap mata. Apalagi bila iman sedang goyah. Agar tidak jatuh lebih lagi, lalu mencari jalan pintas untuk memecahkan persoalan…
Ada beberapa cara untuk itu. Kalau takut masuk bui karena tertangkap korupsi, ngecu, maling dan merampok, bisa mencari cara yang lebih aman. Misal dengan mencari pesugihan. Tapi cepat kaya dengan pesugihan, juga tak bisa dibilang aman. Kadang akibatnya malah lebih mengerikan! Sebab kebanyakan, harus meminta tumbal nyawa segala. Kalau ada yang tidak memakai tumbal, laku prihatin-nya juga tidak enteng. Puasanya melebihi orang bertapa. Begitulah yang sering terdengar di bursa pesugihan.
PULAU Jawa, terdapat banyak tempat pemberi pesugihan. Makam keramat, gua angker, pohon wingit, sendang ajaib, misalnya, sering dianggap jadi ‘pemberi’ harta. Masing-masing tempat, punya ‘cara’ dan syarat rata-rata hampir sama. Pandansigegek tak jauh dari Parangkusuma Jogyakarta, kondang jadi tempat cari pesugihan. Sejak zaman dulu, tempat itu dipercaya sebagai gudang tuyul pesugihan. Bisa dipungut salah satu, tapi dengan syarat tertentu.
Dusun Dlepih Kahyangan, Tirtomoyo, Wonogiri, ada semacam petilasan dari Panembahan Senopati yang juga jadi tumpuan para pencari pesugihan. Petilasan itu hingga kini dibanjiri peziarah dari berbagai daerah. Begitu pula Pantai Slamaran, Pekalongan dan Pemandian Kera Mendit, Malang Jawa Timur.
Tapi tempat mencari pesugihan yang paling kondang di Indonesia adalah Gunung Kawi! Begitu populernya tempat ngalab berkah ini, maka peziarahnya datang dari seantero Nusantara.
Ada ilmu pesugihan yang dikenal dengan ‘babi ngepet’. Di Jawa Timur, biasa disebut ‘celeng kresek’. Untuk menggasak harta tetangga, si pelaku minta bantuan celeng jadi-jadian. Biasa beroperasi siang malam. Tapi risikonya juga berat. Kalau tertangkap penduduk bisa digebuki hingga tewas. Si pemilik juga ikut-ikutan njedhut.
Ada cerita menarik tentang pesugihan ‘celeng kresek’ dialami warga Jawa Timur. Pak Sarno (sebut saja begitu), semula hidup sederhana bersama keluarga. Beberapa lama, dia jarang kelihatan berada di tengah masyarakat.
Tanpa diawali cerita ini-itu, Pak Sarno lalu membuka usaha warung soto. Dalam tempo relatif singkat, sotonya laris. Warung jadi gede dan tambah laris manis. Tapi Pak Sarno tetap jarang bergaul di tengah masyarakat.
Lalu muncul rumor negatif tentang kehidupannya. Isu paling santer, Pak Sarno cepat kaya karena memelihara pesugihan ‘celeng kresek’. Kalau semula hanya satu dua yang percaya, lalu berubah makin banyak. Untuk meyakini rumor itu, beberapa orang bertanya kepada salah satu ‘orang pintar’ yang juga warga setempat. Setelah diterawang dengan ‘mata batin’, dukun itu pun mengiyakan. Terang saja warga lalu waspada.
Suatu kali ada warga memergoki ada ‘celeng’ masuk desa. Kemudian, bukan sekali dua kejadian itu. Eh, malah ada yang mengatakan, ‘celeng’-nya selalu menghilang di rumah Pak Sarno. Nahas pun menimpa. ‘Celeng kresek’ itu bisa ditangkap ramai-ramai. Terang saja langsung dicacah-cacah. Bahkan dibakar pula. Menariknya, bersamaan dengan itu, Pak Sarno kelimpungan di rumah dan mati tak lama kemudian. Tubuhnya pun hangus.
Setelah dirunut lebih jauh, Pak Sarno ditengarai mencari pesugihan di daerah Watudodol. Terletak di kawasan hutan lindung antara Banyuwangi dengan Situbondo Jawa Timur. Siapa saja bisa mendapat pesugihan ‘celeng kresek’ di situ. Tapi harus kuat puasa ngebleng selama tiga hari di Watudodol.
Sesajinya berupa kembang telon, minyak wangi dan secawan darah ayam cemani. Kemudian ditaruh di bawah sebuah pohon paling besar terdapat di situ.
Setelah dibacakan mantera panggilan. Ada orang yang bisa membantu baca mantera di sekitar itu. Kalau doanya terkabul, celeng gaib itu akan muncul. Setelah berlangsung ‘dialog’ apa yang dikehendaki, ambillah air liurnya.
Di rumah, air liur dibasuhkan pada anak belum mencapai akhil baliq. Anak siapa pun bisa. Tak lama, anak itu akan meninggal sebagai lebon (tumbal).
Kalau hal itu tak terpenuhi, maka yang bersangkutan sendiri yang mati. Tapi bila sudah ada lebon, ‘celeng kresek’ akan membantu mencari uang. Setiap 35 hari sekali, ‘celeng kresek’ harus diberi sesaji darah ayam cemani.
Source: blak-blakan.com


